Kok Begini Caranya…?
Ditulis oleh angkatanenambeacukai di/pada Juni 4, 2008
Pepatah mengatakan tidak ada pesta yang tidak pernah berakhir. Pada saatnya, pesta pasti akan berakhir. Karena persiapan pesta dilakukan secara sadar dan melibatkan banyak pihak, sebaiknya cara mengakhirinya pun tidak sepihak. Cukuplah kepala rumah tangga dan para tetua kelurga yang turun tangan. Apalagi karena tidak semua yang ikut dalam ruang pesta turut menikmati atau mabuk dalam kegembiraan.
Peristiwa Jum’at kelabu merupakan contoh cara-cara pengakhiran sebuah pesta yang sama sekali tidak etis dan tidak fair. Mengapa ?
1. Cara itu sama sekali tidak menunjukkan jiwa kepemimpinan yang memiliki karakter kecuali putus asa. Bagaimana bisa seorang BC.1 mengundang pemburu untuk tiba-tiba melakukan ‘perburuan’ di kebun binatang. Sedangkan langkah pembinaan internal belum dioptimalkan. Dan sayangnya, binatang buruannya adalah profesional-profesional muda yang telah lolos seleksi ketat dan tengah merangkai perubahan.
2. Rumah dan sistem baru dibangun dan masih terlalu dini berharap semua berubah dalam hitungan satu tahun (DUA PULUH TAHUN…..!!! kata ibunya Kiki Fatmala sambil berapi-api).
3. Gila, kalau mengandaikan semua pegawai di KPU akan menjadi anak baik-baik, sementara pengguna jasanya masih ‘orang itu-itu juga’ dan diberi jalan.
Bahwa hasil sidak menemukan masih adanya praktek suap, selayaknyalah BC1 kembali menengok sejarah Tg Priok pra KPU. Barangkali yang terakhir hanya asap dari pesta yang melegenda sejak kantor itu berdiri.
Kita bukannya tidak pro perubahan, tetapi memaksakan standar sempurna terhadap sistem dan awak sistem yang belum 100% tune in tampaknya terlalu berlebihan. Menginginkan hasil sempurna mestinya juga butuh waktu dan terutama : Keteladanan
(Pak Dirjen, sudahkan Anda melakukan semua itu?)
bapakethufail berkata
mungkin……..
yang diperlukan kesabaran, strategi, dan empati (: bijak)
Anonim berkata
seperti kata pepatah:
“kurang ganteng, salon diobrak -abrik”
nindityo berkata
setuju mas, dan itu juga yang dilakukan ditempat kami ketika kitsda masuk ke kantor-kantor. “benahi dulu, kasih penyuluhan, bikin pelatihan, dan baru kemudian beri hukuman. jangan jadi negara dalam negara. kita masih satu corps.”
yang tabah, tetap tegar, tetap semangat.
besok musti lebih baik lagi.
lik hendro berkata
perubahan…. setuju!!
untuk menjadi yang lebih baik…
ubah dulu dari dalam diri kita sendiri…
woyrus berkata
Wis to lah, menengo…..enak-enak
Dasar bocah gemblung ya !!