angkatanenambeacukai

teras silaturahmi….

Perenungan Seorang Pekerja – Part 1

Ditulis oleh angkatanenambeacukai di/pada Juni 12, 2008

: By Poeg

(Cerita ini hanyalah fiksi dan bukan merupakan kejadian nyata)

Ini adalah perenungan saya akhir-akhir ini. Bukan karena ada kaitannya dengan peristiwa jumat kelabu. Tapi perenungan ini mulai coba saya renungkan dari perjalanan pekerjaan seorang teman saya, ditambah pengamatan terhadap pekerja lain dan beberapa artikel.

Teman saya ini adalah adik kelas saya. Saya tidak perlu menjelaskan apakah dia lulusan stan, prodip atau dari sarjana, yang penting dia lebih muda dibandingkan saya dan bekerja di Departemen Keuangan. Dulu teman saya menganggap dirinya sebagai orang bertipe pekerja (atau orang bilang si semut hitam), yang akan terus bekerja dengan keras.

Ketika mulai bekerja di kantor ini, saya amati teman saya tersebut bekerja sangat keras sehingga banyak sekali pekerjaan yang ditimpakan pada dia dan dapat diselesaikan dengan baik. Ketika saya tanya pada dia, jawab dia sungguh membuat saya tercengang. ”Saya anggap ini adalah ”berkah”, karena saya banyak ingin berbuat sesuatu kepada institusi ini (atau kalau boleh dibilang ”negara ini” walaupun sepertinya berlebihan – red)”

Bahkan ketika ada seorang atasan yang memberikan uang -yang menurut saya ala kadarnya-, teman saya tersebut merasa …… wah ….. besar banget penghargaan yang diberikan boss.

Tapi berlanjut dengan berubahnya waktu ….. makin lama teman saya mulai berpikir ….. kok yang diberikan negara kepadanya kurang banget. Dihitung dari jumlah jam kerja yang dipakai dengan penghasilan yang dia terima kok sangat mencolok.

Bullshit lah apa yang dikatakan Presiden Amerika itu, begitu kesah teman saya itu.

Mulailah dia berpikir tentang ”kebaikan-kebaikan” yang telah dia berikan kepada negara. Berapa banyak tagihan yang disumbangkannya ke negara …… berapa banyak tenaga dan waktu diluar jam dinasnya yang tergadaikan ……. berapa banyak waktu istri dan anak-anaknya yang terabaikan…….. Bahkan ketika anaknya masuk rumah sakit dia harus terus berkutat dengan pekerjaannya.

Seolah dia adalah seorang ”Superman” yang hanya melayani untuk menolong manusia yang lain dari berbagai macam kesulitan tanpa memperhatikan si Lana – pacarnya.

Jangkrik ….. dia mengumpat, ”kayaknya saya udah mulai dikerjain negara nich”, keluh dia (tapi.. kadang saya juga berpikir apakah dia dikerjain atasannya ???????? – red.).

Tapi ketika dia bertanya kepada saya, balik saya bertanya kepadanya .

Lho ..! terus dulu kamu kerja itu tujuannya untuk apa ?????

Apa kerja untuk cari rejeki ???

Apa kerja untuk cari sensasi ???

Apa kerja untuk cari promosi ???

Apa kerja untuk cari mutasi ???

Apalagi ketika ada remunerasi ………

Soalnya teman saya itu yang pontang-panting ngurusin besarnya jumlah remunerasi, bagaimana bisa dapat diterima. Menyiapkan bahan presentasi dan uba rampe-nya. Saya bisa paham kerja keras dia yang harus berjuang di Departemen dan ditempat-tempat lain dengan biaya yang terkadang harus dia tanggung sendiri.

Jang………….kkkk. Kembali teman saya itu berkesah kepada saya.

”Kita yang mengusulkan kenaikan remunerasi, kok nilai tunjangan saya paling rendah. Udah kerjaan paling banyak ….. Lihat yang lain santai-santai saja tapi dengan grade yang lebih tinggi plus promosi lagi ….. kepala panas nih”.

Udah gitu ada pejabat yang bilang …… Ngapain kerja di …… (ini saya sensor sendiri – red), tunjangannya sama aja. Padahal kita udah mati-matian ngajukan kenaikan tunjangan lebih tinggi 40 s.d. 60% untuk pelaksana dibandingkan kantor lain …… ”

Memang sih, kalau mau diamati tunjangan rekan saya yang lain di kantor ….. (kembali lagi sensor oleh red.) tersebut pada grade 10 hanya terpaut kurang lebih 500 ribu dibandingkan tunjangan saya pada grade 14. Apalagi kalo dibandingkan dengan teman saya di grade yang sama.

Ketika dia berkesah lagi (saya tidak pernah menyebut berkeluh lho – red.) Saya ulangi lagi pertanyaan saya dulu.

Lho ..! terus dulu kamu kerja itu tujuannya untuk apa ?????

Apa kerja untuk cari rejeki ???

Apa kerja untuk cari sensasi ???

Apa kerja untuk cari promosi ???

Apa kerja untuk cari mutasi ???

Walaupun ketika untuk mengucapkan yang kedua kali, saya agak berpikir ulang karena saya pikir teman saya itu telah banyak didholimi oleh lingkungan kerjanya.

Akhirnya dalam perenungan seorang pekerja – part 1 ini, saya berpikir berulang dan berulang lagi.

Terkadang sisi perenungan ”kemanusiaan” saya yang muncul namun terkadang kerap kali sisi ”kesetanan” yang muncul. Memang jarang sekali sisi ”keikhlasan atau kemalaikatan” yang timbul.

Sesekali tersadar pesan Dr ’Aidh al-Qarni.

- Pikirkan dan syukurilah

- Yang lalu biar berlalu

- Jangan mengharap terima kasih dari seseorang

- Berbuat baik terhadap orang lain, melapangkan dada

- Bersama kesulitan ada kemudahan

- Ganti itu dari Allah

- Sabar itu indah

- Dan yang paling mengena untuk saat ini adalah ”terimalah setiap pemberian Allah dengan rela hati, niscaya anda menjadi manusia paling kaya”.

Semoga teman saya menjadi manusia yang paling kaya.

(to be continued)


.

2 Tanggapan ke “Perenungan Seorang Pekerja – Part 1”

  1. masandhy berkata

    ya Allah pahamkan kami
    tentang cinta,
    dan keikhlasan…

  2. masandhy_lagi berkata

    cari rejeki? ndak lagi, rejeki sudah ada yg memberi
    cari sensasi? ndak ah, cuma sesuap nasi..
    cari promosi? hari gini.., susah sekali
    cari mutasi? ihiks ihiks ihiks..
    kediri atau bekasi cukuplah buat kami,
    tapi jangan ke Bali,
    apa lagi Malili.
    itu jauh sekali……

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>